-->

Welcome!

I am Rizqi Akbar Freelance Writer Journalist

View Work Hire Me!

About Me

Writing
Editing
Journalism
Who am i

Rizqi Akbar.

Freelance Writer

Punya pengalaman dalam penulisan dan publikasi artikel. Berkegiatan di organisasi media dan penerbitan. Aktif di BPPM Balairung UGM sebagai Pemimpin Umum 2021. Terlibat dalam pengerjaan beberapa produk: situs web, majalah, jurnal, bunga rampai, dan media sosial.

Kini, sedang belajar bersama Tempo.co sebagai reporter magang, dengan tugas menulis artikel tiap hari. Sebelumnya, juga pernah mendapat kesempatan belajar di media nasional, yakni sebagai content writer (Internship) di IDN Media. Ketika magang, diminta oleh IDN Media untuk mempromosikan fitur tanya-jawab di IDN Apps. Sesekali mencoba menulis untuk beberapa media. Di antaranya ialah tempo.co; balairungpress.com; mojok.co; idntimes.com; dll

Skills

Menulis

Menulis dan mempublikasikan artikel di media maupun di blog pribadi. Menulis beberapa jenis artikel: berita, feature, artikel populer, artikel ilmiah,dll.

Menyunting

Punya pengalaman menyunting artikel di balairungpress.com Mampu melakukan sunting substansi dan bahasa, serta proofread.

Adaptif

Mudah menyesuaikan diri. Terus berusaha belajar hal baru. Mengikuti update terbaru di media sosial.

Akademik

Mahasiswa yang berusaha memproduksi karya-karya ilmiah, seperti esai, jurnal, penelitian, dll.

Our Blog

Naik Perahu di Rawa Pening


Belum lama ini rasa bosan dan kantuk sudah terobati setelah nekat jalan-jalan. Sebelum cus, biasa selalu ada perencanaan yang sama sekali tidak matang. Kumpul. Iseng-iseng mengajak. Pada meng-iya-kan. Tentukan rencana.
Entah kenapa muncul nama rawa pening dalam perbincangan. Sebelumnya, aku pribadi memang belum pernah ke rawa pening. Mau ngapain juga gak tau kalau ke sana. Paling pol, itu juga hanya lewat saja. Cukup lihat kalau ada air, udah. Tapi, untuk kali pertama ada niatan untuk menjajal menelisik rawa pening.

Untuk menikmati suasana rawa pening, sebetulnya ada tiga opsi. Pertama, dari Jembatan Biru. Kedua, kampoeng rawa. Dan ketiga, Bukit Cinta. (Entah masih ada yang lain apa enggak) Kami memilih opsi pertama yaitu, Jembatan Biru.

Setibanya di jembatan biru, kami disambut oleh… yap betul jembatan berwana biru. Selain itu juga ada alat-alat untuk mengeruk eceng gondok. Fyi, eceng gondok telah memenuh sebagian besar permukaan di rawa pening. Makannya, sedikit demi sedikit direvitalisasi.

Balik lagi di jembatan biru, di situ kami puas memandang luasnya danau dan yang gak kalah luas ialah hamparan eceng gondok. Beberapa menit di jembatan kami tiba-tiba sudah bosan. Bukan bosan dengan rawa peningnya, tapi bosan berdiri saja di sebuah jembatan. Kami pun berjalan perlahan menghampiri warung di tengah. Di situ kami melihat papan bertuliskan sewa perahu. Seketika tanpa berdebat kami bertiga memutuskan menyewa perahu seharga 60 ribu.

Kami diantar oleh bapak-bapak yang kebetulan juga seorang nelayan. Jarak yang semula kami anggap remeh, ternyata jauhh sekali kalau dihampiri. Benar-benar luas ternyata. Saat mulai ke tengah danau, rasanya cukup mendebarkan. Karena dalam bayangan pribadi, selalu terbayang rasanya nyemplung ke air tanpa dasar. (ah lebay). Parno sedikit sih pada awalnya. Tapi, lama-lama enak. Kayak pas jatuh cinta, ehh.


Semakin tengah semakin jelas pemandangan yang ada di situ. Langit yang teduh. Gunung yang gagah. Dan air yang tenang. Pas buat relaksasi. Kebetulan juga sampainya pas agak sore. Walaupun kurang jelas, tidak masalah dengan awan yang menutupi. Seenggaknya, tidak kepanasan. Hehe.

Karena, banyaknya eceng gondok di situ. Aku pun penasaran, gimana asal mulanya. Kenapa sangat banyak, dan apa fungsinya. Bapak itu menjawab dengan detail. Tetapi, yang aku tangkap hanya beberapa saja hehe. Seperti, eceng gondok itu jadi rumah atau tempat berlindung para ikan dari sinar matahari. Iya, di situ banyak banget ikan. Dan katanya ikan-ikan juga bisa tiba-tiba ada di sekitar eceng gondok. Jadi, menguntungkan juga buat para nelayan.



Terus ternyata eceng gondok juga dimanfaatkan para nelayan kalau hujan. Gimana maksudnya? Kalau hujan di danau yang luas kan pasti basah, karena gak ada pohon atau gedung untuk berteduh, ya iyalah. Nah, saat itu peran eceng gondok. Katanya, pas hujan lebat para nelayan menggunakan eceng gondok untuk berteduh, sekaligus melindungi hasil tangkapan. Apalagi perahu yang digunakan nelayan biasanya bukan perahu besar dengan tutup. Hanya berupa lesung atau sampan saja.


Oiya, eceng gondok di rawa pening itu diikat menjadi satu. Entah bagaimana caranya, kurang paham. Jadi, kalau pas naik perahu jangan kaget kalau ada rangkaian eceng gondok yang bergeser perlahan bersamaan.


Sampai di tengah. Ada semacam tambak atau apa namanya. Di situ kami berhenti dan dipersilahkan lihat-lihat atau menikmati pemandangan dulu. Jadi, bukan hanya naik perahu-sampai-pulang lagi. Nanti bakal ada waktu untuk mengeksplorasi. Terlebih kalau seorang pemburu foto yang ciamik. Pas banget kalau datang ke rawa pening. Pasti bakal puas dengan pemandangan yang disuguhkan tuhan di sebuah danau yang berada di jawa tengah ini.





Buat kamu yang ingin menjajal keindahannya rawa pening, bisa banget cus kemari. Dan jangan lupa sewa perahu. Selain bisa eksplor lebih jauh, kita bisa membantu ekonomi warga sekitar. Kalau sudah membantu, jangan mengganggu ya! Jangan mencemari lingkungan di sana! Okeecuyy?




instagram: @rizqiak_bar

IDN Times Community: Tempat Menulis Penuh Refrensi


Akhir-akhir ini blog yang niatnya semakin diisi malah lebih sering terabaikan. Banyak faktor sih. Entah memang lagi malas, laptop rusak, dan yang paling sering itu bingung mau nulis apa. Blogger lain sering bingung juga enggak yaa? Hehe.

Pixabay
Tapi, kalau dilihat-lihat enggak juga sih. Di daftar bacaan blogku, tetap banyak tulisan-tulisan dari blog-blog lain. Dan kalau ditelisik lagi, mereka juga bisa dibilang rutin sekali. Salut banget dah. Nah, pas lagi pingin menulis, eh malah enggak punya ide, aku biasanya sok-sokan cari refrensi. Biasanya dari dulu blogwalking. Baca-baca tulisan baru dari blogger lain yang rajin-rajin, seperti: Mas Andi Nugraha, Bayu Rohmantika, Kresnoadi, Hawadis, Bimo AjiVanisa Desfriani, dan masih banyak lagi tentunya.

Dari blogwalking itu kadang menemukan juga ide baru atau topik yang sama tapi, dengan pandangan yang berbeda. Manfaat blogwalking yang benar-benar nyata hehe. (tapi, kok statistik yang ke sini masih belum naik??)

Meskipun, sudah menemukan ide buat post baru, tetap saja post di blog enggak bertambah. Karena, kayak enggak percaya diri buat update post yang -bisa dibilang- niche-nya agak jauh dari blog ini. (Padahal ini blog enggak jelas niche-nya apaan. Hahaha)

Akhirnya, bingung mau di-apakan draft-draft tulisan yang sudah jadi. Sempat terpikir untuk buat lagi blog baru, tapi ya kalau dipikir buat apa juga. Lalu jadinya semua tulisan tadi terbengkalai di luar pikiranku. 
-
Pada bulan November sekejap aku teringat, ada satu platform menulis asli Indonesia. Namanya ialah IDN Times. Sebelumnya aku sering banget baca artikel-artikel di situ. Artikel yang tersedia di situ beragam, banyak kategori dan subkategori. Lalu gaya bahasanya lebih kekinian, Karena memang ditujukan untuk millennial.

Setelah sering mengunjungi IDN Times, semakin sering pula aku melihat banner yang mengajak untuk bergabung dengan IDN Times Community. Apa sih itu?


Jadi, IDN Times Community itu sebuah kanal yang sengaja dibuat agar kegemaran menulis generasi millennial Indonesia tidak hanya menjadi sekadar menulis saja, namun akan mendapatkan apresiasi yang lebih. Tentunya kesempatan untuk dibaca dan dibagikan oleh banyak orang. IDN Times Community pun memberikan reward bagi para penulis berupa point. Jika point itu sudah terkumpul, dapat ditukarkan dalam bentuk uang, yang dapat di-transfer langsung ke rekening bank penulis.

Bukan hanya sebuah imbalan yang diberikan. Ada lagi fitur-fitur seru yang disediakan dengan tujuan menarik semangat penulis muda untuk berkompetisi yang sehat. Tentunya diharapkan penulis muda semakin bersemangat membuat konten yang berkualitas, informatif, serta edukatif.

Bagaimana cara gabungnya?

Mudah sekali. Cukup kunjungi IDN Times lalu mendaftar seperti sosial media pada umumnya. Atau lewat link ini, terus klik banner seperti di bawah  berikut.


Setelah itu isi data form dan langkah-langkah lain yang tidak sulit. Sampai pada tahap konfirmasi lewat e-mail berarti sudah selesai. Keseluruhan tidak sampai 5 menit, cepat kok.

Ketika telah tergabung menjadi community writer di IDN Times Community, kita bisa bersaing secara sehat dengan penulis lainnya. Setiap tulisan yang telah kita submit, kita pasti akan mendapatkan point dari hasil konversi jumlah views artikel, yang nanti point itu dapat ditukar dengan uang, seperti yang tertulis di atas. Jika kita aktif dalam membuat konten berkualitas dan viral, maka berpeluang lebih besar untuk masuk ke dalam daftar “TOP WRITER” yang nanti terpampang pada laman utama IDN Times Community.


Lalu, apa saja yang bisa kita tulis?

Kategori yang bisa ditulis beragam sekali. Contohnya:


Cara menulisnya?

Tentukan kategori tulisannya agar mempermudah penulisan. Sesuaikan juga bentuk tulisannya. Di IDN Times Community membagi bentuk tulisan menjadi dua, yaitu: Listicle dan narasi.



Listicle itu artikel yang berbentuk list dengan gambar. Biasanya tulisan mengenai tips, kumpulan gambar, dll. Kalau narasi kebanyakan berisi tentang berita, cerita, puisi, dan sejenisnya.

Jangan lupa! Menulis di platform ini sebaiknya menggunakan judul yang menarik. Agar memancing banyak pengunjung untuk membacanya. Tapi, jangan melenceng dari isi tulisan. Jangan terlewatkan juga mencantumkan sumber terkait.

Oiya, seleksi artikel pun cukup ketat namun, bukan berarti sulit. Karena, platform ini cukup besar, jadi jelas ada standar sendiri untuk artikel yang dimuat. Selain artikel yang menarik, juga tidak boleh mengandung unsur-unsur yang melanggar ketentuan jurnalistik.

Misalnya penulis memiliki ide yang menarik, tetapi mengemasnya dengan kurang menarik, editor akan memberikan revisi. Revisi di sini menegaskan kalau memang platform ini ditujukan untuk membantu para penulis membuat konten yang lebih berkualitas.


Selain revisi, tulisan yang kita submit dapat ditolak juga. Biasanya penolakan disebabkan oleh tema tulisan yang sudah pernah dibuat atau penjiplakan. Karena sebagai penulis, penjiplakan adalah sesuatu yang sangat harus dihindari. #LawanPlagiat

Dapatin uangnya gimana, ya?

Pertama yang jelas harus dilakukan adalah rajin menulis artikel. Dengan rajin menulis, maka kesempatan artikel ditayangkan semakin besar. Setelah artikel tayang akan mendapat views, yang mana per views itu setara dengan sejumlah points. Jadi, jumlah views artikel mempengaruhi point yang akan kita peroleh.  Selain dari views, point juga dapat diperoleh dari mengikuti promo & event yang sedang berlaku.


Nah, 500 points itu setara dengan Rp 50.000 begitu juga dengan kelipatannya. Lumayankan? Sebelumnya, untuk mencairkannya kita harus mendaftarkan rekening bank. Jika sudah klik bagian “Redeem Point”. Dengan catatan minimal pencairan dana sebesar Rp 200.000 atau 2.000 points.


Contoh bukti pencairan dilakukan. Nah, sekitar 5-7 hari proses pencairan ke rekening berlangsung. Dan alhamdulillah, aku sudah bisa menikmati uang hasil menulis di IDN Times Community. Hehehe.
--

Itu tadi pengalamanku mengatasi kebingungan dalam menulis. Cari refrensi dari artikel di IDN Times. Ada yang aku tulis di blog dan ada yang aku tulis di IDN Times Community. Jadi, aku berusaha imbang dikedua platform tersebut.  Enaknya di blog, tentu karena memang ini bersifat pribadi. Yang memungkinkanku untuk update semauku.

Nah, kalau menulis di IDN Times Community, enaknya aku juga bisa bebas bereksplorasi dengan topik-topik yang baru, dengan bahasa yang lebih mudah dan berusaha dapat diterima banyak orang. Hasilnya aku bisa menganggap diriku sendiri berkembang (minimal) hehehe. Dan tentunya dapat imbalan yang sudah dijelaskan.

Selain sharing, postingan ini juga ditujukan untuk mengajak teman-teman untuk bergabung juga agar semakin banyak konten yang menarik di IDN Times. Sekaligus memberikan tips untuk mengatasi kebingungan menulis juga, hihi. Untuk teman yang lain, mungkin bisa juga mengunjunginya untuk sekadar melihat ragam kreativitas millennial Indonesia.

Thank you!


Contact Us

Link :

https://linktr.ee/rizqiakbar

Address :

Sleman, Yogyakarta,
Indonesia

Email :

kirimkeakbar@protonmail.com