Tulisan | Opini | Cerita

Yang Spesial di Perantauan

Tentang perantau yang merantau, dan apa yang ada di perantauan


Merantau kini telah menjadi suatu hal yang 'disunahkan' dalam proses pendewasaan. Dari daerah ke daerah yang lebih indah. Dari pelosok ke tempat yang lebih mencolok. Yang penting keluar dari kampung halaman, lalu tergiring ke tempat yang disebut perantauan.

Kebanyakan orang merantau dengan dua alasan umum, pendidikan atau pekerjaan. Keduanya memiliki satu perbedaan yang akan dirasakan, biasanya finansial. Namun punya banyak kesamaan hal yang akan sama-sama dijumpai di perantauan. Seperti: lingkungan baru, budaya baru, relasi baru hingga perasaan rindu.

Merantau juga jadi tempat mental dan fisik kita ditempa agar lebih tangguh. Susah senang dijalani tanpa keluarga, yang sedari kecil sampai sebelum kita merantau ada setiap saat. Karena itu, pada momen tertentu akan ada saatnya perantau merasa kesusahan yang disebabkan tuntutan untuk serba mandiri.

Tapi, kesusahan yang terjadi dapat teralihkan jika perantauan ada seseorang yang spesial. Entah mau dikata teman atau pasangan. Sudah pasti susahnya hidup di perantauan dengan beragam tantangan bisa dilewati bersama. Dari tantangan yang dihadapi, ada beberapa momen yang bisa selalu diingat. Momen sederhana, namun jika terus diingat-ingat bisa makin dekat. Momen-momen seperti:

Ikut repot pada kerjaannya...

Kadang akan tiba saatnya kita ikut andil pada pada apa yang ia kerjakan. Misal, ia akan ada presentasi, kuis, atau kesibukan lainnya. Dan pada akhirnya kita akan terlibat dalam kegiatannya tersebut. Yang pada awalnya dengan senang hati membantu, lama-kelamaan bisa berubah jadi terpaksa dengan ajakannya. Tapi, harus diakui momen seperti itu akan menjadi sangat menyenangkan. Menunjukan kalau kita saling mendukung dan mengisi waktu luang setidaknya.

Belanja bulanan akan dihiasi debat, tentang mana yang lebih hemat
Mengingat kondisi keuaangan yang sama-sama terbatas, maka belanja bulanan harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meminimalisir pengeluaran. Dan ketika memiliki sosok dengan kondisi yang sama, maka kadang akan ada kolaborasi yang berbalut perdebatan. Perdebatan receh seperti, barang di sana lebih murah atau merk ini lebih terjangkau. Meski hanya sekedar membeli mie instan plus peralatan mandi, suasana bisa menjadi lebih spesial. Daripada masuk minimarket sendiri lalu bingung dengan label harga yang mirip-mirip. 


Ketika belum dapat kiriman, maka patungan akan dilakukan
Karena sama-sama masih bergantung kepada keluarga tentang finansial. Dan hal yang akan dihadapi berikutnya ialah ketika kiriman telat datang. Dengan punya seseorang pasangan, balada dompet tipis bisa dilewati dengan menyenangkan. Patungan bersama pasangan dapat dilakukan, untuk sekedar beli makanan atau jajanan. Es teh manis hasil patungan pun akan membuat suasana kian manis.

Tidak bisa pulang kampung, quality time berdua itu penawarnya
Ada kalanya kita akan merasa kesepian, ketika yang lain pulang kampung. Terlebih ditinggal sendirian di kosan, pasti akan sangat kesepian serta membosankan. Namun, lain halnya jika ada pasangan ketika gagal atau tidak pulang kampung. Masih ada dia yang akan menemani. Dan malah momen seperti itu menjadi sangat berharga. Yang awalnya tidak ada rencana sama sekali, tiba-tiba ada kesempatan untuk bercengkrama bareng si dia.

Walaupun dadakan dan tanpa plan, kita masih bisa asik-asik bareng si dia, ehh hehe. Seperti lari pagi lalu bersantai sambil ngopi. Keliling kota sambil icip-icip kuliner yang ada. Atau jalan-jalan di taman kota sampai senja menua. Banyak hal sederhana yang bisa dikerjakan bersama.


Ketika bosan, duduk di kosan dengan obrolan ringan pun akan menyenangkan
Satu lagi hal yang spesial jika ada si dia di perantauan. Hari-hari yang tak mesti bisa dikurangi. Kadang bosan dengan kerjaan, tugas-tugas yang tak jelas mau di apakan. Saat-saat seperti itu akan mudah teralihkan dengan obrolan ringan bareng pasangan di kosan. Cerita-cerita tentang apa yang dikerjakan, apa yang dirasakan, sampai apa yang sedang direncanakan. Bahkan, hal random dan pikiran bodoh masing-masing bis berubah menjadi bahasan serius tentang hubungan. Hari melelahkan pun bisa jadi bahan obrolan untuk melepas kepenatan kita, lalu beralih menjadi candaan yang menggemaskan.



Ya barusan beberapa momen atau hal yang spesial di perantauan menurut penulis. Bagaimana dengan kalian? Hal apa yang spesial di perantauan, menurut kalian?

Meski kadang berat dan banyak tantangan, merasakan berhubungan (dalam tanda kutip) di perantauan itu dapat mengajari banyak hal.

Belajar bagaimana menjaga hubungan sembari sama-sama berjuang. Itu mengajarkan kita untuk tahu cara mengorganisir tingkat ego dan kepedulian kita. Belajar saling mengisi? Sudah pasti.



 









18 komentar:

  1. Jadi ingat pas dulu kerua di Jkt. Kangen kampung halaman cuma bisa telepon. Kalau isi dompet nipis, aku patungan sama temen kost buat makan. Karena dulu belum punya pasangan

    BalasHapus
  2. Betul, nih. Sering banget bosan. Keluar nongkrong beli minum, ajak teman. Kelar. Happy lagi..haha
    Capek pulang, tidur..he
    Anak kost banget ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba ga ada temen, bakal bosan banget di sana :D

      Hapus
  3. Jadi inget merantau kuliah di kota kembang. Jauh dari rumah, dan apalagi kalau waktu sakit, terus temen2 pada pulang. Duh nelangsa sekali. Dituntut banget buat mandiri.

    BalasHapus
  4. wah pas biasa aja kadang ga enak, apalagi pas sakit tambah mengenaskan kalau di perantauan hehehe
    harus bangt buat mandiri jadinya

    BalasHapus
  5. Merantau itu semacam love hate relationship yaaa,, selamat merantau.
    Btw, masukan ya mas,, aku pas mau komen dg blogger kok jadinya nge-klik iklan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak bener bisa gini bisa gitu juga

      maaf untuk ketidaknyamanannya :)

      Hapus
  6. emang sih aku pun merasa di perantauan itu memang enak tapi agak susah juga, karena ya sendiri... beda kalau dlu sama orang tua semua serba enak... tapi dengan sendiri pelajaran yang di dapt juga lebih banyak, sama kayak aku mengenal dunia blogger ini pun belajar sendiri dan cari cari di Internet

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari situ kita bisa jadi mandiri. begitu juga dengan keingintahuan kita juga tumbuh dan tersalurkan oleh diri kita sendiri.
      Coba kalau terus-terusan sama ortu, mungkin kita hanya menunggu apa yang diberitahu ortu kita.

      thanks untuk kunjungannya

      Hapus
  7. kalau ada seseorang yg spesial? kalo jomblo gimana? hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo jomblo dinikmati sendiri atau kalo mau ya temukan dulu yg spesial hahaha

      Hapus
  8. Saya juga perantauan mas, Alasan saya merantau ingin hijrah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mandiri. Alhamdulillah sekarang saya bisa menikmati susah senangnya bekerja di kota orang.

    Walaupun gaji tak seberapa tapi benar-benar di nikmati, apalagi merantau akan menimbulkan efek rinduu yang sangat besar buat kampung halaman hehe..

    Salam kenal mas ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah mas bisa menikmatinya, semoga tambah nikmatnya di perantauan
      salam mas

      Hapus
  9. Ini belum ada post baru lagi kah, Mas? :)

    BalasHapus
  10. sekarang sudah tambah dikit-dikit mas, hehe

    BalasHapus
  11. Saya belum pernah merantau, Riz. :( Tapi dua minggu tinggal jauh dari orang tua ketika nganterin sekaligus nemenin seorang teman di kota lain yang sedang ngerantau karena kuliah, itu pernah. Hm, buat saya cukup mengejutkan, sih. Banyak hal yang bisa saya pelajari. Gimana dengan uang seadanya mesti tetap bertahan hidup. Apalagi biasanya kalau makan udah ada Ibu yang masakin, ini kudu apa-apa cari atau bikin sendiri. Lauk nggak jauh-jauh dari nasi goreng, telor, atau mi. Kalo bosen, ya palingan masak nasi sendiri, terus tinggal beli lauk. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, menu yang dimakan biasanya hampir mirip terus. itu-itu muluuu. yang gampang dan murah hehe

      nah kalo udah mau merantau bisa siap-siap biar gak kaget yog hehe :D

      Hapus

Mari berkomentar !
Terimakasih.

Event

Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.