Pemalas yang coba rajin menuangkan pandangan, perasaan, dan pengalaman.

Event

Thursday, July 6, 2017

Pingin ngomongin tentang lebaran kemarin. Bukan tentang makanan atau barang-barang baru sih, tapi tentang kumpul. Lebaran memang seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk kumpul bersama.


Ngomongin kumpul. Lebaran tahun ini buatku seperti biasa aja. Di rumah bangun-makan-tidur itu sudah lebih dari cukup. Mau keliling ke tetangga, lagi gak terlalu tertarik juga. H+4 baru bisa merasakan lebaran. Karena, setelah itu aku lebih sering ketemu teman-teman yang beraneka bentuknya. Dengan kedok ke tempat guru kita semua main-main seperti dulu. Rasanya masih asik aja meski dah lama gak ketemu.

Bahas kuliah kek, bahas cewek kek, hingga balik ke masa lalu dengan hinaan masing-masing. Di sela pembahasan, selalu tersiar ghibah-an. Jelas yang jadi bahan teman yang gak ada kabar, hahaha. Salah satu bahasannya tentang orang yang terjebak oleh cinta. Weh, agak berat ini bahasannya.

Di setiap gerombolan biasanya belum tentu semuanya sama, pasti ada pembedanya. Dan digerombolan yang ini memiliki beberapa track record dalam kasus percintaan. Ada yang udah pacaran lebih dulu dari yang lain, ada yang sering ganti, ada yang dapetin incaran bersama, ada yang sering kena masalah, dan yang terakhir ada yang baru mulai. Nah yang baru mulai itu, mulai saat semuanya telah tobat, karena kandas.

Pada kumpul itu, satu orang yang terakhir itu tidak menampakan wujud aslinya. Jadi otomatis pembicaraan mengarah padanya, diawali dengan penasaran dan berujung omongan, hahaha. Dari obrolan waktu itu aku menyimpulkan kalau cinta itu juga dapat membuat seseorang berubah. Bahkan, bisa berubah drastis hingga membuat orang lain gagal ginjal, eh gagal paham. Banyak kekonyolan yang menggelikan dilakukannya, dan itu membuat dia lupa takaran kewarasannya. Seperti kata Raditya Dika, IQ seseorang akan turun 10 poin saat jatuh cinta.



Orang yang jatuh cinta tidak sadar kalau IQ nya turun, tapi orang di sekitarnya lah yang merasakan betapa anehnya. Aneh dalam artian yang lain yak. Pada titik ini, muda-mudi ganteng dan cantik rela berubah jadi lebay. Pemuda-pemudi paling rasional berubah menjadi gila. Dan pria gagah pun menangis tersendu.

Bukan hanya itu. Orang yang terjerat cinta bisa juga lupa akan lingkungannya sendiri. Bahkan, cenderung menghindari. Seakan hidup ini hanya tentang pasangannya. Tidak ada kata teman lagi sepertinya. Entah kenapa, hanya karena fase awal dalam menjalin hubungan itu beberap orang kehilangan temannya dulu dan sedikit orang merasakan bahagianya. Selama mereka bahagia –walau sesaat- berdua, mereka tak akan terpengaruh ucapan dunia. Itulah kenapa, terkadang orang yang terbuai cinta berlebihan, sering menjauhi/dijauhi teman-temannya. Karena, mendadak mereka menjadi batu pada temannya dan menjadi lembek kepada pasangannya. Mutlak harus pasangannya.


Belum lagi kalau pasangannya posesif. Pasti pernah merasa kalau teman atau diri sendiri ini tulus terhadap pasangan. Mulai nganterin, beliin ini itu, sampai menuruti perintah dan menjauhi larangan pasangannya. Pada awalnya sih bisa terlihat menakjubkan. Tapi, lama-kelamaan kalau kita sadar, kita akan melihat menjijikan dan merasa iba. Itu ketulusan atau kebodohan, ya?

Ternyata banyak orang gak sadar kalau pasangannya itu menjadi posesif. Belum lagi soal cemburu, apa aja bisa jadi alasan. Karena semua harus tentang dia. Apa aja harus seperti yang dia mau. Tidak ada lagi kebebasan di hubunganmu. Seseorang bisa dengan mudah dikontrol olehnya, tapi orang itu gak bisa mengontrol dirinya sendiri. Pastinya punya pacar posesif itu gak enak.
---
Kadang aku bayangin betapa mirisnya orang yang punya pasangan posesif. Gak bakal tenang sampai di surga kayaknya. Semua orang mencari jalan ke surga untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Tapi ada beberapa orang yang gak bisa menikmatinya di surga. Orang-orang ini adalah cowok-cowok (orang) yang punya pasangan posesif. Pasangan posesif biasanya cemburuan. Nah, ini satu sifat yang membuat orang gak bisa menikmati di surga.

Sekarang bayangin. Kita cowok, masuk surga, dikasih bidadari. Jangankan nyolek, baru ngelirik aja ceweknya bakal datang nyamperin.

“Hayo, ngapain kamu ngapain?”
“Lho beb, ini kan surga”
“Oh, jadi sama aku neraka gitu? Gitu???”

Bakal kesiksa banget para cowok, karena gak bisa menikmati surga seperti cerita guru SD dulu. Tapi ya emang gitu sih rasanya punya pasangan yang posesif. Jangan kan di surga, sebelum masuk surga pun bakal gak enak juga.

Sebelum menuju surga, kita kan pasti ditimbang dulu, amal kebaikan dan keburukan. Gak enak kalau punya pasangan posesif.

Malaikat bilang. “Saudara Upin, tanggal 15 Mei 2015 kamu membuat bahagia seorang wanita bernama Ros”

Dari belakang ceweknya datang. “Siapa itu Ros? Siapa itu, siapa???”
“Itu mama aku beb”
“Oh sorry, sorry ya. Okedeh aku gak bakal nguping lagi kok”

Malaikat melanjutkan. “Lalu pada tanggal 16 Juni 2016 kamu membuat seorang wanita bahagia, namanya vita. Walaupun kamu melakukannya dengan terpaksa, tidak ikhlas, dan berbohong saat kamu bilang kalau dia kurus”

Ceweknya datang lagi dengan berontak. “Tuh kan kamu bohong. Aku gendut kan? Gendut??? Kamu tukang bohong!!!”
“Enggak beb, aku itu cuma bilang kalau kamu itu kayak bunga”
“Kayak bunga ya? Bunga? Mekar berarti, mekar???” Terus dia ngancem. “Awas aja ya di surga!”

Gila kan, bakal repot hidup dan mati kita. Menurutku sih, daripada punya pasangan posesif mending mati dengan jomblo. Gapapa, gak ada salahnya. Ada orang yang ingin mati bareng anak atau pasangan, dan ada juga yang ingin mati dengan jomblo. Setidaknya sudah move on.

Move on itu harus. Karena, semisal kamu mati jomblo dan belum move on hal yang terjadi adalah, ketika kita mempertanggungjawabkan perbuatan kita di dunia, contoh ditusuk.

“A..aa.aa” ketika kamu ditusuk, lalu ada yang lewat di atas mu.
Dan kamu bilang. “Eh mantanku tuh. Wah, masuk surga. Ketemu gebetannya?”

Seketika kamu menangis dipojokan menghiraukan malaikat.

Bidadari-nya tadi hehe :D


Kesimpulannya apa ya? Gak ada sih dariku. Terserah pembaca aja mau menyimpulkan gimana. Semoga aja sih, orang zaman sekarang bisa lebih bijak menghadapinya. Boleh lah cinta pada orang lain tapi ya tahu sendiri takaran yang tepat. Apalagi, masih kecil belum resmi juga. Lebay ah.

Kalau sudah resmi ya boleh aja. Malah orang di sekitar yang harusnya lebih bijak. Jadi santai aja, kalau kelak pertemanannya kalah dengan suami atau istrinya. Kan ada waktunya.
Balik lagi buat remaja yang baru akil baligh. Masak iya, masih muda terus-terusan berduaan. Kalau pas resmi bosen gimana? Mau datang ke teman yang dulu, eh mereka lagi serius menjalin hubungan.


Cerita ini hanya fiktif belaka :P

Sumber gambar :
https://neweconomy.net
http://bungkusdah.com/wp-content/uploads/2016/01/Raditya-Dika.jpg
http://plywoodpeople.com/wp-content/uploads/2012/03/blog-gathering.jpg
Net.tv