Tuesday, January 10, 2017

Catatan 2016 : Maksud dari Perpisahan

2016 memang sudah tergantikan 2017. Tetapi luka dan rasanya masih tertinggal dalam pikirku. Secara garis besar 2016 merupakan tahun yang tidak mengenakan bahkan menyedihkan untukku. Banyak hal ga asik yang terjadi.





Salah satunya hal itu adalah Perpisahan.  Perpisahan adalah kondisi di mana kita tidak bersama dengan suatu hal itu lagi, karena ada sebuah alasan. Perpisahan sendiri merupakan satu paket dari pertemuan. Which is pasti akan terjadi. Tak penting seberapa nyeri hati menerimanya yang jelas akal sehat harus dapat membimbing untuk merelakannya.

Perpisahan mungkin membuat kita tidak bersama di waktu ini, mungkin di suatu saat nanti ada saatnya kembali lagi. Begitu pun dengan kita sebagai manusia, tuhan menciptakan kita untuk kembali kepadaNya. Tentunya dengan arah dan maksud yang jelas. Pada akhirnya kita harus terima akan berpisah selamanya dengan keluarga dan teman karena kematian, tapi di satu sisi kita akan kembali menemui Tuhan yang selama ini selalu kita rindukan.





Tahun 2016 menjadi waktu di mana aku berpisah mulai dengan kucingku, sekolahku, teman-temanku, pacarku, keluargaku, bahkan mimpiku.

Image result for kepergian
-
Hal yang tidak mengenakan diawali dengan pengumuman kelulusan. Nilai yang kuterima tidak mendekati targetku. Minim sekali bagiku, nilai yang ga kubanggakan tapi ya tetap kusyukuri.

Berlanjut ke pengumuman selanjutnya, SNMPTN. Pesan yang kudapatkan ialah mohon maaf. Sial!
Setelah SNMPTN adalagi saudaranya SBMPTN. Kali ini semakin menjatuhkan mentalku. Disusul saudara jauhnya, UTUL UGM. Masih lagi dinyatakan gugur, padahal aku sudah berencana berlibur waktu itu. Yah, jadinya uang yang aku sisihkan untuk berlibur terpaksa terpakai buat tes-tes masuk lainnya. Dan sialnya hampir semua ga mau menerimaku, duhh! Mungkin hampir jutaan uangkusumbangkan ke univ-univ kaya itu. Beberapa mimpiku telah pergi di tahun itu.
Lalu dengan niat seadanya dan kepasrahan yang luarbiasa tes terakhirku di Airlangga menyatakan kalau aku diterima. Awalnya aku senang dan lega. Tetapi, ternyata itu awal dari hal tidak mengenakan lainnya.

Oke, sebelumnya aku sudah berpisah dengan sekolahku dan beberapa temanku yang lebih dulu diterima. Kini setelah aku dapat sekolah baru, aku harus dengan terpaksa meninggalkan pacarku dan keluarga. Firasat aja saat pertemuan sebelum kupergi gaenak sama sekali. Kayak ada sepet-sepetnya gitu.
Pamit dengan Ibuk, saudara, dan semua keluarga. Yeah, aku hidup bebas. Awalnya aku berpikir begitu. Tiba di kota bonek, aku merasakan hawa panas yang sangat menyiksa. Ditambah lalulintas yang ga karuan, menambah stres pikiranku.
Beberapa hari kujalani hidup di Surabaya tanpa kendaraan bahkan tanpa kipas di kostan membuat aku tambah gila. Aku udah ga betah, sambat tiap hari. Curhat ke pacar, tapi dee (dia) lagi sibuk ngurusin ospeknya.



Hari ke-5 aku jadi maba, aku malah buat masalah dengan pacarku, Yap..dee cemburuan dan jelas kkarena keteledoranku. Aku upload foto bareng cewek lain, dan kemarahannya menjadi-jadi. Firasatku, hubungan ini bisa kandas. Tapi untung tidak... waktu itu.

Selama berbulan-bulan aku kuliah, semuanya membosankan tidak ada yang membuatku hepi. Hingga aku putuskan untuk pindah di tahun mendatang. Niatan gila,bagi anak yang mendapatkan beasiswa full. Ya, mau gimana lagi hati ini tak sanggup lagi haha.

Oktober-November, banyak hal yang kupelajari. Bukan dari perkuliahan, melainkan dari perenungan dan pengamatanku di kostan. Aku tahu banyak hal dari wejangan-wejangan pengurus kost yang notabene kerja sebagai HRD.

Tapi tetap, itu tidak membuatku terlalu betah. Saat aku menghabiskan waktu di kost. Dan menerima kenyataan kalau pacarku sedang sibuk-sibuknya dengan acara kampus. Aku semakin tak kuasa menghadapi ini. Ditambah fasilitas yang harusnya mendukungku sama sekali tidak membantuku. Stres, muak, bosan, lelah, dan banyak keluhan dariku.
--
Singkat cerita, seketika aku dan dee sudah tidah menjalin hubungan. Terserah mau disebut break,putus,pisah atau apalah intinya sama,itu berita ga enak.
Yang menjadi agak beda kita tetap berhubungan baik, hingga waktu menyuruh kita berhenti.

Desember.
Bulan yang aku nanti-nanti karena ada liburnya menjadi bulan yang aku lewati dengan kegelisahan.
Aku sering gelisah di bulan itu. Entah kukira karena dee, tapi bukan sama sekali. Bukan juga karena uang bulanan yang tak kunjung datang. Firasatku berkata sesuatu yang sulit diterima.

Aku hiraukan itu dengan cara menghibur diriku. Aku kado diriku sendiri dengan smartphone baru.
Waktu kucoba smartphone itu, muncul satu pesan pertama. Dari saudaraku yang berisi : "ibuk, masuk RS serangan stroke ke-2" DAMN!
Kusikapi dengan tenang dan bijaksana. Aku berdoa kepada yang maha kuasa agar tidak terjadi hal lain.
Jujur aku ingin pulang hari itu juga. Namun, jadwal perkuliahan yang digeser sesuka hati dosen membuat aku terhambat. Jatah bolosku pun sudah habis jadi mau gimana lagi. Setiap malam setelah sembahyang entah kenapa selalu terlintas pikiran-pikiran yang ga enak.
Kucoba alihkan dengan kegelisahan lain, tapi masih muncul juga.

Hari kamis, 22 Desember 2016. Aku awali hari dengan mengirim SMS ke ibuku ucapan hari ibu. Walaupun aku tahu pesan itu tidak bisa ia balas hari ini. Aku tetap berharap ada balasan. Hari itu perkuliahan ada 2 sesi.
Tiba-tiba aku pusing dan malas sekali untuk kuliah. Aku putuskan cabut, tak menghiraukan perkuliahan. Sampai kost, aku memikirkan untuk pulang lebih awal.Kubuka hape dan kulihat opsi-opsi yang bisa aku gunakan..
---
Opsi yang aku dapat ialah pesawat. Dengan penuh perjuangan sebelumnya aku bisa sampai bandara tepat waktu. Di bandara aku coba menenangkan pikiran. Lalu ada telpon dari kakakku, meminta aku bersholawat untuk ibuk. Deg. Terasa ada kejutan di hatiku. Aku bersholawat dengan suara yang lemah. Selesai itu aku menuju pesawat, duduk di seat 4c bersebelahan dengan mas-mas hiphop.
Mataku terpejam, bayangan pemakaman membangunkanku. Sampai tujuan, kubuka hape, dan... pesan pertama yang kuterima dari teman-temanku adalah 
"TURUT BERDUKA CITA YA, BAR"
Ohhhh, tuhan mengajak ibuku pulang, diwaktu aku pulang untuk menemaninya.

Ada satu yang aku amini, Ibuku bukan pergi meninggalkanku. Tetapi dia pergi untuk menemani kakak, bapak, dan keluargaku lain yang sudah lebih dulu.
Beliau pulang untuk kembali kepada Tuhan yang ingin ia temui.

.....




Share:

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkomentar. Silahkan komentar sering-sering hehe
Jangan lupa ikuti blog ini.