Saturday, November 26, 2016

Perbedaan Kuliah dengan SMA

Akhir-akhir ini saya terlalu khawatir dan nervous sama kehidupan kuliah, ya. Membosankan berbeda dan ga senyaman sebelumnya. Walaupun semuanya lebih ke negatif, ada beberapa pengalaman atau pandanganku tentang sisi lain perkuliahan. Setelah lulus SMA dan masuk perguruan tinggi, saya menikmati berbagai privilege dan keuntungan spesial, yang hanya dialami anak kuliahan, seperti:
1. Berangkat ga harus pagi 
Malah kalau beruntung, kamu bisa memulai hari dengan kelas siang, sekitar jam 12.00-an. Biasanya bisa lebih santai dan ga terburu-buru ataupun takut kekunci di gerbang.Tapi cukup sial saya selama ini mendapat banyak kelas pada jam 7.00. Artinya, kamu punya lebih banyak waktu untik siap-siap, sarapan cantik, dan peluk guling. Yeay!
2. Baju bebas
Jelas banget rasanya lebih santai dan ga bosan. Biasanya sih aturannya baju bebas asal berkerah dan bersepatu.
3. Jam kuliah nggak sepadat sekolah
Di sekolah, mungkin kita harus belajar non-stop, dari jam 7 pagi sampai jam 3-4 sore, dengan banyak mata pelajaran. Beda dengan di kampus. Dalam sehari, hanya ada 2 hingga 4 mata kuliah, dan waktunya relatif lebih singkat. Apalagi dosen biasanya malas ngehabisin waktu (hehe).
4. Bisa dapat libur tak terduga
Biasanya dosen terlalu malas untuk datang atau punya acara lain jadi kelas dikosongkan. Di semester yang SKS-nya nggak terlalu padat, kamu mungkin saja bisa mendapatkan libur saat weekdays.
5. Liburannya lebih panjang 
Biasanya, sekitar 1 bulanan di akhir dan awal tahun, kemudian 3 bulan di pertengahan tahun. Liburan tersebut bisa diisi dengan magang, ikutan semester pendek, hingga keliling dunia atau keliling Dunia Fantasi aja dulu, lah, kalau budget mepet. Kamu juga bisa mempelajari sesuatu yang spesifik dan sesuai dengan minat dan passion kamu. Sedangkan zaman sekolah 'kan, pelajarannya masih umum banget.
6. Bebas menentukan hal yang dipelajari
Semasa sekolah, pelajaran dan segala jadwalmu sudah ditentukan. Sementara saat kuliah, biasanya kamu boleh menentukan jumlah SKS dan mata kuliah yang ingin kamu ambil, mengatur sendiri jam kuliahmu, serta bebas memilih Mata Kuliah PilihanPokoknya, kamu bakal lebih punya kuasa terhadap perjalanan studi kamu. Tetapi seperti kutipan hebat di film Spiderman, “With great power comes great responsibility.” Jangan sampai kuliah kamu amburadul, gara-gara kamu terlalu santai saat mengaturnya. Hasilnya, kamu akan merasakan semangat masuk kelas dan belajar, karena kamu benar-benar menyukai bidangnya.
Itulah kenapa, penting banget kamu mengambil jurusan kuliah yang sesuai minat. Jangan pilih jurusan karena ikut-ikutan atau dengan alasan "yang penting masuk kuliah".
refrensi :
youthmanual.com 
Share:

BIDIKMISI? Inilah 6 Hal Tentang Bidikmisi


Bagi kamu yang belum tahu, sejak tahun 2010, pemerintah Indonesia meluncurkan program beasiswa Bidikmisi. Beasiswa ini merupakan bantuan biaya pendidikan kuliah untuk siswa dari keluarga tidak mampu. Menurut Bidikmisi, kriteria “tidak mampu” adalah kalau kamu adalah pemegang Kartu Indonesia Pintar, atau kalau penghasilan kedua orangtuamu maksimal 3 juta rupiah per bulan. Selain biaya kuliah, Bidikmisi juga mencakup biaya hidup selama kuliah, lho, gaes.
Saya sendiri adalah  penerima beasiswa Bidikmisi. Maka, kuliah saya dibiayai oleh pemerintah, melalui beasiswa Bidikmisi. Nah, kali ini saya ingin berbagi serba-serbi beasiswa Bidikmisi. Yuk, simak!
1. Besar biaya hidup setiap kampus ga sama
Tiap semester, setiap mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi akan mendapat uang enam juta per semester. Uang tersebut mencakup biaya kuliah dan biaya hidup. Uang ini akan ditransfer dari Kemenristekdikti ke tiap-tiap kampus.
Selanjutnya, pihak kampus akan meneruskan uang tersebut ke masing-masing mahasiswa penerima beasiswa. Umumnya, biaya kuliah akan otomatis dipotong oleh pihak kampus, dan mahasiswa akan menerima biaya hidup saja per bulan, atau langsung kumulatif per semester.
Nah, besar biaya hidup yang diberikan Bidikmisi berbeda-beda di tiap kampus. Umumnya, besar jumlahnya disesuaikan dengan biaya hidup kota setempat dan aturan keuangan universitas.

Share:

Wednesday, November 23, 2016

Ini Alasan Belajar Harus di Bimbel

Mendekati tahun ajar baru atau ujian-ujian, anak sekolah biasanya akan memikirkan atau terganggu dengan tawaran dari berbagai bimbel. Ada yang ga ambil pusing, ada juga yang mikir-mikir masuk bimbel. Alasan seperti : waktu, cocok enggak, dan biaya jadi pertimbangan. Tapi jujur, bimbel itu perlu ga sih?

Jawabannya yang aman tergantung. Kalau dibilang enggak perlu, ada juga kasus-kasus tertentu dimana peran bimbel sangat mempengaruhi masa depan juga. Tapi kalau dibilang perlu, bimbel bukan satu-satunya penjamin masa depanmu.

Apalagi biaya bimbel, ga semurah harga pamflet promosinya yang dari kertas bekas. Biaya bimbel aja bisa lebih mahal daripada biaya sekolah. Ga kebayang berapa uang yang melayang? Jadi sebenernya aku mau bilang kalau bimbel tuh enggak terlalu perlu. Menurut pengalaman, habis uang banyak tapi kalau pribadinya emang ga niat ya tetep aja. Ada beberapa faktor yang membuat bimbel bukan suatu hal wajib.

Tidak Intim
Bimbel saat ini banyak peminatnya. Efeknya bimbel akan membagi kelasnya dalam skala besar tiap ruang. Hampir sama kayak sekolah tipenya, terus bedanya apa? Terkadang malah lebih banyak juga. Menurutku, jadi ga nyaman karena pasti ga fokus karena suasananya.

Untung Bimbel
Hal ini bukan masalah biaya sih. Tapi kedepannya, semisal kamu bener-bener sudah cerdas banget lalu kamu masuk bimbel karena ikut-ikut. Nanti kesuksesanmu akan ditutup oleh bimbel. Kerja kerasmu sendiri kayaknya ga dianggep, karena bimbel itu yang punya kamu. Liat kan, banyak anak yang dipamerkan pada pamflet promosi. Anak yang nomer 1 UN se-Indonesia yang diakui bukan kerja keras anaknya, melainkan nama besar bimbelnya.

Biaya Tidak Murah
Satu hal ini sebetulnya sudah dapat menggugurkan niatan masuk bimbel. Kebayang sih jutaan itu, bisa dibuat beli apa aja? Terus semisal udah males nanti jadi eman ga sih uangnya? Padahal belajar dengan 'sedikit paksaan' juga ga terlalu baik buat niat.
Tapi meskipun begitu bimbel memang dibutuhin, Jika...
1. Kamu nggak bisa belajar sendiri
Kalau kamu justru nggak bisa belajar sendiri, ikut bimbel bisa menjadi pilihan yang tepat.Karena di bimbel, ada banyak tentor yang bisa kamu “ganggu” untuk membantu segala  ketidaktahuanmu dalam pelajaran. Mereka juga tentunya akan memberikan metode, tips dan trik super asik agar kamu  dapat menyerap materi pelajaran dengan lebih baik.
2. Kurang puas di sekolah
Mungkin kamu merasa kurang puas di sekolah, entah karena gurunya sering absen, materi yang disajikan kurang lengkap, materinya memang susah, atau karena kamu nggak cocok dengan metode ajar guru kamu.
3. Butuh belajar secara intensif
"Belajar intensif" bisa berarti berbeda-beda bagi setiap pelajar. Ada siswa yang butuh belajar intensif setiap musim ulangan, ada yang hanya butuh belajar intensif di tahun terakhir sekolah.
Sekali lagi, ini balik lagi ke gaya belajar kamu, ya. Kalau di kondisi-kondisi tersebut kamu masih bisa belajar sendiri, ya kamu nggak usah ikutan bimbel. Ikut bimbel nggak menjamin kelulusan, kok!
***
Saranku, jangan sekali-sekali ikutan bimbel cuma karena ikut-ikutan teman. Ingat, gaya belajar kamu enggak selalu sama dengan temanmu! Lebih baik kamu cari tahu lebih jauh gaya belajar seperti apa yang cocok sebelum memutuskan apakah ikutan bimbel adalah pilihan terbaik untukmu.
Jujur, aku prefer buat ikut les privat (kelompok kecil) aja. Karena itu memang akan membantu mulai dari ketenangan dan kejelasan. Selain itu, kamu juga bisa milih sendiri sama siapa aja, kamu juga bisa milih mata pelajaran yang kamu rasa susah. Tapi les privat bukan harus mahal lho ya! Minta bantuan guru-gurumu, biasanya guru-guru dengan senang hati membantu.

refrensi :

youthmanual.com
Share:

Apa Itu Mencintai?

Suatu saat di Surabaya, aku mendengar percakapan para gadis yang mulai pubertas. aku tahu sudah mulai pubertas karena memang terlihat jelas (haha). Dari 4 gadis yang yang sedang cangkruk, 3 gadis berusaha ingin tahu sebuah jawaban dari gadis lainnya.

"eh, awakmu kok gelem seh ambek arek iku? opo gak ono lenangan liyo a?", tanya mereka bertiga
Artinya, "eh kamu kok mau sih sama anak itu? apa gak ada lelaki lain?"
"Lapo seh? Kudu tak jawab ta?", balas pihak minoritas
Artinya, "kenapa sih? harus tak jawab kah?"

Ada beberapa hal yang membuat aku pikirkan. Satu, mungkin 3 gadis tersebut belum laku. Dua, ingin tahu tentang cinta. Tiga, aku inget sama cewekku yang lagi jauh di Solo (fak). Aku ga kebayang kalau pertanyaan itu ditanyakan temen-temen cewekku padanya. Karena apa? mungkin sepele, tapi pertanyaan atau pernyataan tentang pilihan kita dapat mempengaruhi keyakinan kita sendiri, lalu bisa jadi akan menyerah memperjuangkan perasaannya. Lama-kelamaan mungkin akan merasa jika pendapat orang di sekitar itu lebih benar. Saat itu juga bisa muncul langkah untuk mundur, dan akan terjadi lebih mudah, karena sekitar kita turut mendukung.   

***
Pada kesempatan lain, aku pribadi pernah mengalami. waktu dimana aku memperjuangkan si dia, ada beberapa temen yang  merasa kasihan. Mereka menganggap kalau ini berlebihan dan akan sia-sia. mungkin karena temen, aku jadi ngerasa kalau mereka juga bener. tapi seketika aku sadar, terus kalau aku nurut mereka, aku dapat apa? Kalau aku tidak melanjutkan lantas lebih sia-sia waktuku sebelumnya. Alasan lain, karena waktu itu aku mengejarnya bukan karena ambisi memiliki pasangan. Aku merasa diriku sudah mengalami kesiapan menerima segala kecocokan bahkan perbedaan. Jadi selagi ada kesempatan apa salahnya sih dimanfaatkan.
***

Hal itu terkadang terjadi karena kita lupa maksud dari mencintai. Bukan mereka yang merasakan, bukan mereka yang menjalani. Jadi, bukan mereka yang berhak memutuskan yang terbaik untuk dijalani. Maksud dari mencintai adalah untuk merasa bahagia, bukan untuk terlihat bahagia. Memperjuangkan hati si dia, bukan hati lingkungan kita. Menikmati pengorbanan, bukan memaksakan pengorbanan.

Orang yang beneran mencintai, saat berjuang untuk orang yang tak bisa termiliki pun bisa tetap merasa bahagia. Orang yang tak benar-benar mencinta, akan kebanyakan mikir untung-ruginya, mungkin-tidaknya, matematis dan logika. Kita juga sudah tahu, jika cinta kadang-kadang tak ada logika kan? -agnezmo


Share: