-->

Welcome!

I am Rizqi Akbar Freelance Writer Journalist

View Work Hire Me!

About Me

Writing
Editing
Journalism
Who am i

Rizqi Akbar.

Freelance Writer

Punya pengalaman dalam penulisan dan publikasi artikel. Berkegiatan di organisasi media dan penerbitan. Aktif di BPPM Balairung UGM sebagai Pemimpin Umum 2021. Terlibat dalam pengerjaan beberapa produk: situs web, majalah, jurnal, bunga rampai, dan media sosial.

Kini, sedang belajar bersama Tempo.co sebagai reporter magang, dengan tugas menulis artikel tiap hari. Sebelumnya, juga pernah mendapat kesempatan belajar di media nasional, yakni sebagai content writer (Internship) di IDN Media. Ketika magang, diminta oleh IDN Media untuk mempromosikan fitur tanya-jawab di IDN Apps. Sesekali mencoba menulis untuk beberapa media. Di antaranya ialah tempo.co; balairungpress.com; mojok.co; idntimes.com; dll

Skills

Menulis

Menulis dan mempublikasikan artikel di media maupun di blog pribadi. Menulis beberapa jenis artikel: berita, feature, artikel populer, artikel ilmiah,dll.

Menyunting

Punya pengalaman menyunting artikel di balairungpress.com Mampu melakukan sunting substansi dan bahasa, serta proofread.

Adaptif

Mudah menyesuaikan diri. Terus berusaha belajar hal baru. Mengikuti update terbaru di media sosial.

Akademik

Mahasiswa yang berusaha memproduksi karya-karya ilmiah, seperti esai, jurnal, penelitian, dll.

Our Blog

ARTJOG: Dominasi Masa Lalu dalam Karya Seni

©Akbar/Bal

Hamparan pasir memenuhi seisi ruangan. Suara musik yang menyayat terus menggema di dalam ruangan. Pecahan kaca bening dengan kilau hijau berserakan di atas gundukan pasir, bak lautan disinari matahari yang tampak dari tepi pantai. Di sudut lain, lampu-lampu kristal bercahaya menggantung di langit-langit. Empat lampu panjang menyala terang tampak menancap di tubuh patung anjing berkepala tengkorak. Di sebelahnya, seperangkat lampu kristal menimpa piano kayu yang remuk.

Seni instalasi itu berjudul Love Is a Many Splendored Thing, karya seniman Jompet Kuswidananto. Instalasi ini merupakan salah satu karya yang dipamerkan ARTJOG pada 8 Juli–31 Agustus 2021, di Jogja National Museum. ARTJOG tahun ini akhirnya digelar secara luring dan daring selama masa pandemi COVID-19. 

Di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), ARTJOG 2021 tetap berlangsung dengan segala pembatasan dan keterbatasan. Siang itu (05-08), Balairung berkesempatan untuk mengunjungi ARTJOG dalam rangkaian kunjungan media yang digelar oleh panitia. Suasana dalam gedung cukup tenang. Hanya dua-tiga panitia yang berlalu-lalang. Hari itu, hanya beberapa orang yang dijadwalkan datang.

Kali ini, ARTJOG mengangkat ihwal waktu, dengan tajuk “Time (to) Wonder” atau “Waktu untuk Keajaiban”. Ada 41 seniman yang berpartisipasi dalam gelaran ini. Salah satunya adalah Jompet, ia dikenal sebagai seniman yang berkarya dengan berbagai medium. Mulai dari karya instalasi, suara, video, hingga teater. Banyak karyanya menyuarakan tentang sejarah Indonesia, isu-isu politik, kolonialisme, dan mobilisasi masa dalam konteks Indonesia pasca-reformasi.

Dalam instalasinya, Jompet mencoba menyajikan romantisisme dalam sejarah. Melalui puing-puing kaca, ia menghadirkan sejarah tentang imaji pertarungan, penaklukan, kehancuran, dan kemenangan. Ia hendak menyajikan romantisisme dalam sejarah Indonesia. Instalasi ini mengisyaratkan, barangkali sejarah memang tersusun atas puing-puing kekacauan, luka yang terus dibuat mengkilap; berkilauan dan menyilaukan. Agung Hujatnikajennong, kurator ARTJOG menyebut, “Instalasi Jompet ini merupakan sebuah instalasi yang secara puitis melihat sejarah sebagai narasi tentang pertarungan dan kekerasan di masa lalu.”

Dalam pengerjaannya, Jompet menyatukan pengalamannya dengan cerita-cerita perjuangan dan kemenangan. Instalasi utama berupa lanskap pantai dengan hamparan pecahan kaca dan pasir itu ia kerjakan selama lima bulan. Pecahan kaca itu ia dapatkan dari pabrik kaca di Jakarta. Sementara untuk menamai instalasinya, Jompet meminjam judul lagu Andy Williams, penyanyi Amerika Serikat. “Love Is a Many Splendored Thing merupakan sebuah lagu yang dinilai memberikan penghormatan pada cinta sebagai sesuatu yang mulia nan megah. 

Love Is a Many Splendored Thing, Karya Jompet Kuswidananto | ©Akbar/Bal
Love Is a Many Splendored Thing, Karya Jompet Kuswidananto | ©Akbar/Bal

Kekerasan di masa lalu juga hadir pada karya Sirin Farid Stevy yang berjudul Dongo Dinongo Reactor65 tangga bambu bertuliskan cerita sedih penyintas tragedi 1965 mengitari sebagian ruangan. Tampak televisi hitam-putih, ceret, dan gelas diletakkan di tengah ruangan. Di baliknya, tampak setumpuk buku, mesin ketik, serta dua keranjang bunga tabur. Farid mendapatkan bambu-bambu itu dari hibah keluarga, kerabat, penyintas tragedi 1965, dan orang-orang yang peduli pada rekonsiliasi 1965. “Jadi, ini merupakan karya instalasi partisipatoris,” kata Farid. 

Farid melengkapinya dengan lukisan, gambar, dan catatan yang dibuat mengiringi proses dari waktu ke waktu. “Dalam proses pencarian, saya dihadapkan dengan berbagai peristiwa yang membuka cakrawala laku Jawa dan memantik berbagai kesadaran dalam mengenali Jawa,” ujar Farid. Aroma bunga pun turut menyebar dan mengantar pada suasana ziarah. 

Dongo Dinongo Reactor merupakan proses panjang dan berkelanjutan tentang penelusuran lokasi makam kakeknya, yang bernama Sirin. Dalam pengerjaannya, Farid Stevy berkolaborasi dengan ayahnya, Asto Puaso. Mereka menelusuri lokasi makam Sirin, hingga ke Gua Grubug di Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanan Farid bersama keluarga saat nyekar ke Gua Grubug, terekam dalam video yang diputar di balik tangga-tangga yang disusun rapi itu. 

Sirin sendiri merupakan seorang Sekretaris Desa Pelembutan, Playen, Gunungkidul, kala itu. Farid dan keluarga berusaha merestorasi sejarah Sirin, yang secara historis berelasi dengan wilayah tersebut. “Upaya ini merupakan rekonsiliasi kecil, partisipasi, keterbukaan dialog, doa, dan dukungan dari keluarga,” terang Farid. Sejak 2006, sebenarnya keluarga Farid telah mencari kuburan Sirin, yang hilang saat tragedi pembantaian 65 terjadi. Penelusuran pun berakhir pada 2020, di Luweng Grubug, yang diduga sebagai tempat eksekusi orang-orang terlibat organisasi komunis pada 1965–1966. Mereka meyakini tempat tersebut merupakan lokasi terakhir Sirin.

Dongo Dinongo Reactor, Karya Sirin Farid StevyDongo Dinongo Reactor, Karya Sirin Farid Stevy | ©Akbar/Bal

Nuansa tragedi 1965 pun turut hadir dalam karya Agung Kurniawan. Nasib penyintas pembantaian 65 ia representasikan lewat chandelier atau lampu gantung yang dikelilingi baju bekas para penyintas. Baju-baju itu berwujud kebaya, batik, rok, dan kutang yang tampak mengambang. Lampu gantung ini diletakkan dalam ruangan dengan dinding berwarna merah darah. 

Karya Agung ini berjudul Maukah Engkau Menari Denganku Sekali Ini Saja? Menurutnya, lampu gantung ini mewakili orang-orang yang dilupakan, ditinggalkan, dan menjadi kambing hitam dalam kondisi yang terus berulang. Umumnya, lampu gantung selalu identik dengan kemewahan, kejayaan, dan kemapanan. Ia biasanya digantung di ruang tamu rumah raja, adipati, atau orang kaya. Namun, lampu redup ini digantung di pojok ruang gelap. Menurut Agung, layaknya pada genosida ‘65, lampu redup ini adalah harapan. “Berharap diakui sebagai korban genosida di tahun ‘65 atau jadi kambing hitam selamanya,” ungkap Agung. 

Sementara itu, The Reckoning berupaya menggambarkan sejarah kelam yang dialami oleh perempuan. Karya ini hasil kolaborasi Nadiah Bamadhaj dengan kelompok musik Senyawa. Inspirasinya adalah kisah Calon Arang di masa Kerajaan Airlangga, pada abad ke-12. Dikisahkan, Calon Arang adalah seorang janda sekaligus penyihir yang ditakuti. Calon Arang pun dianggap mendatangkan wabah bagi kerajaan.

Nadiah menilai, kisah Calon Arang merupakan wujud seksisme di masa lampau. Menurutnya, seorang janda yang sudah lanjut usia, akan dituding sebagai penyihir. Ia dianggap sebagai pertanda kekacauan tatanan sosial. “Secara konsisten, Calon Arang digambarkan dengan cara-cara negatif, misal karena usianya atau kondisi seksualitasnya yang menopause,” kata Nadiah. Karya ini pun berupaya menentang standar ganda seksis patriarki. The Reckoning, Nadiah gambarkan dengan wujud organ kewanitaan berwajah perempuan renta. Rupa nenek tua itu penuh kutil dan kerutan. Karya itu terletak dalam ruangan berlatar hitam dengan lampu yang menyorot ke “organ kewanitaan”.

The Reckoning, Karya Nadiah Bamadhaj dan Senyawa | ©Akbar/Bal

Eko Nugroho, seniman level internasional asal Yogyakarta pun turut memamerkan karyanya soal waktu. Warna kuning mendominasi karya Eko yang berjudul Destroyed in Peace atau Hancur dalam Kematian. Instalasi ini menggambarkan fenomena wabah COVID-19 yang tengah melanda. Karya ini merefleksikan dunia yang telah mengalami sebuah kehancuran dalam kedamaian.

Instalasi karya Eko terdiri dari karya bordir, lukisan, dan beberapa patung. Karya bordir merefleksikan bentuk invasi masif terhadap sejarah atau manusia itu sendiri. Keempat panel lukisan menyimbolkan situasi dan kondisi pada beberapa figur dalam menghadapi wabah COVID-19. Lalu, karya patung berupa tengkorak menyimbolkan penderitaan yang dialami oleh manusia akibat pandemi. “Tengkorak itu juga menjadi penanda bahwa inilah era kita menghadapi sebuah pertempuran dan kehancuran manusia,” jelas Eko.

Karya-karya yang dipamerkan ARTJOG pada edisi ini, merupakan hasil kurasi melalui undangan dan seleksi panggilan terbuka. Sebagian besar seniman terpilih, menampilkan karya seputar ingatan dan sejarah. Kurator ARTJOG, Bambang ‘Toko’ Witjaksono menganggap hal ini sebagai suatu fenomena menarik. “Boleh jadi, imajinasi seniman-seniman tentang waktu lebih dikendalikan oleh warisan masa lalu, ketimbang proyeksi masa depan,” kata Bambang.

Meski didominasi soal waktu di masa lalu, ada beberapa karya yang berusaha melakukan pendekatan berbeda. Misalnya, yang coba dilakukan oleh Nurrachmat Widyasena pada PT. Besok Jaya Taimket WP 01Melalui karyanya itu, ia mencoba bermain-main dengan imajinasi tentang mesin waktu dan masa mendatang. Suvi Wahyudianto juga melakukan hal berbeda dalam karyanya, Telepresence after 20th. Suvi memanfaatkan aplikasi Google Maps untuk menelusuri waktu via ruang virtual yang serba terukur dengan ingatan pribadi yang tak pasti.

Hal yang tak pasti juga terjadi pada situasi hari-hari ini. Seperti halnya nasib ARTJOG di kala pandemi. ARTJOG masih belum dapat dikunjungi oleh publik secara langsung selama PPKM. Meski begitu, Direktur ARTJOG, Heri Pemad beserta tim tidak mau mundur di tengah situasi yang tak menentu ini. Heri menjelaskan bahwa seri pameran kali ini telah dipersiapkan sejak lama. 

Heri mengakui bahwa situasi pandemi ini sangat tidak menguntungkan untuk perhelatan seperti ARTJOG. Ia pun tidak menyangka kalau wabah semakin mengganas dengan penularan varian baru semakin cepat. Perubahan-perubahan kebijakan selama masa pandemi, pun menantangnya untuk merencanakan segala sesuatu dengan lebih rinci. Kali ini, ia siap merugi besar-besaran karena panitia belum dapat memperoleh pemasukan dari penjualan tiket. Meski begitu, “ARTJOG ingin tetap konsisten memberikan kontribusi dengan menyediakan ruang presentasi untuk eksplorasi artistik para seniman kontemporer,” ujar Heri.

Penulis: M. Rizqi Akbar
Penyunting: Deatry Kharisma Karim
Fotografer: M. Rizqi Akbar

Lampion, Musik, dan Wisata di Lanterne Festival de Paris

 Artikel ini telah terbit di balairungpress.com

Malam itu (31-08) Landasan Pacu Pantai Depok dipenuhi oleh ribuan orang dari berbagai daerah. Orang-orang tersebut datang untuk menikmati acara Lanterne Festival de Paris yang diselenggarakan oleh Inspiratif Production bersama Dinas Pariwisata Bantul. Acara berupa konser musik hingga pelepasan lampion ini bertujuan menghidupkan kembali wisata yang redup belakangan ini.

Untuk dapat menikmati rangkaian acara, pengunjung harus menukarkan tiket terlebih dahulu di pintu masuk. Saat menukarkan tiket, pengunjung juga mendapatkan lampion yang dibagikan oleh panitia. Selama acara berlangsung, kelakar dari Alit Jabangbayi dan Putri Manjo selaku pembawa acara memantik tawa pengunjung. Suasana semakin ramai dengan adanya penampilan dari Nufi Wardhana dan Letto Band. Meski penampilan pengisi acara memukau para pengunjung, namun banyak dari mereka yang sudah tidak sabar menanti untuk melepaskan lampion. 

Tidak lama setelah itu, pelepasan lampion dilaksanakan di sela penampilan Letto Band, tepatnya sebelum lagu terakhir. Sembari mendengarkan instruksi pembawa acara, pengunjung antusias untuk melepaskan lampionnya yang telah menyala.  

Satu per satu lampion yang mengudara itu menarik atensi pengunjung dan warga sekitar. Namun sayangnya, seusai pelepasan lampion, pengunjung justru bergegas pulang dan meninggalkan begitu saja sampah yang berserakan. 

Menanggapi hal ini, panitia acara mengatakan telah menyiapkan solusi untuk mengatasinya. Panitia akan melakukan bersih pantai bersama yang melibatkan panitia, relawan, dan warga pada hari berikutnya. Selain itu, panitia juga menyelenggarakan sayembara bagi warga yang mengembalikan kertas bekas lampion ke panitia dengan imbalan seribu rupiah per lampion. Sayembara ini dimaksudkan agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Fotografer: Valentino Mayong A
Kurator: Rizky Ramadhika
Penulis: M. Rizqi Akbar
Penyunting: Andara Rose

Upah Jogja yang Tidak Istimewa

 Artikel ini telah terbit di balairungpress.com


 Rabu (1/5), sekitar pukul 11.00 WIB, massa aksi peringatan Hari Buruh mulai memenuhi Jalan Malioboro. Mereka berasal dari Aliansi Rakyat Untuk Satu Mei (ARUS) dan Gerakan Rakyat Untuk Satu Mei (GERUS). Dalam aksi ini, mereka melakukan ​ long march dari Taman Parkir Abu Bakar Ali, menuju kantor DPRD dan kantor Gubernur Yogyakarta, sampai pada puncaknya di Titik Nol KM, mereka menyuarakan aspirasinya.

Beberapa serikat buruh yang tergabung dalam ARUS, antara lain Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) dan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) serta beberapa organisasi lainnya. Sedangkan, yang tergabung dalam GERUS diantaranya Federasi Serikat Buruh Militan (F-SEBUMI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Perserikatan Sosialis, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta serta beberapa organisasi mahasiswa (BEM KM UGM, Dema Justicia UGM, LEM FH UII, BEM KM UMY dan lain-lain).

Massa aksi yang tergabung dalam beberapa aliansi ini mendorong tuntutan pencabutan PP No. 78 Tahun 2015 tentang pengupahan. Bangkit Darojat, anggota F-SEBUMI yang tergabung dalam aliansi GERUS, menilai peraturan tersebut mengekang peran serikat buruh untuk ikut dalam perundingan penentuan upah setiap tahunnya. Hal itu dianggap menjadi salah satu penyebab rendahnya upah minimum buruh, khususnya di Jogja. “Justru peraturan tersebut semakin menyusahkan buruh karena, menurut peraturan tersebut, kenaikan upah berdasarkan tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Seharusnya berdasarkan pada survey KHL (UU No. 13 Tahun 2003),” lanjut Bangkit.

Menurut Feri Taufik, Koordinator Umum ARUS, upah minimum di Jogja masih terlalu rendah dibanding dengan daerah lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, buruh di Jogja kerap menuntut kenaikan upah minimum. Namun, tuntutan tersebut tidak ditindaklanjuti. Upah minimum Jogja tetap rendah sehingga tuntutan itu kembali disuarakan dalam aksi tahun ini. Hal serupa disuarakan oleh mahasiswa yang secara bergantian berorasi di Titik Nol KM. Dalam orasi, para mahasiswa mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan buruh. Dengan upah yang begitu rendah, buruh akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan, dan kesehatan keluarganya. “Kami bersolidaritas untuk melawan kekuasaan yang tidak mau memberikan jaminan kesehatan dan jaminan kesejahteraan bagi pekerja,” jelas Aldi, selaku Humas dari aliansi GERUS.

Ridwan, mahasiswa Filsafat UGM yang terdorong mengikuti aksi ini, juga menyatakan hal yang serupa dengan Aldi. “Hari buruh harus dimanfaatkan sebagai momen penyampaian kritik terhadap sistem ketenagakerjaan yang salah. Dengan begitu akan ada perubahan ke arah yang lebih baik,” jelas Ridwan.

Selain tentang masalah upah minimum yang rendah, massa aksi juga menuntut pemerintah memperbaiki beberapa peraturan yang dinilai merugikan buruh. Tuntutan tersebut di antaranya ialah menghapus sistem kerja kontrak, pemagangan dan ​ outsourcing​, cuti haid dan cuti hamil tanpa syarat, tolak PHK sepihak, tindak tegas perusahaan yang tidak membayar iuran BPJS dan menjamin serta melindungi kebebasan berserikat bagi rakyat. Feri berharap tuntutan dalam aksi ini akan membuahkan hasil. Terutama perihal kenaikan upah minimum di Jogja. Dengan upah minimum saat ini, buruh tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pemerintah perlu mengistimewakan para buruh, khususnya dalam penentuan upah. “Yang kami serukan adalah perjuangan bagi warga Jogja yang Istimewa, upahnya pun harus istimewa,” pungkas Feri.

Penulis: M. Rizqi Akbar
Penyunting: Fahmi Sirma Pelu

Secercah Asa dalam Pesona Pasar Laguna

 Artikel ini telah terbit di Balairungpress.com


 Sabtu (27-10) Tim Balairung berkesempatan menikmati ketenangan dalam indahnya senja di Laguna Depok. Terlihat gubuk sederhana berdiri menawarkan sajian kuliner yang menggiurkan. Tercium pula harum pandan dengan air yang terseduh bersama jahe, serai, laos dan rempah lainnya. Suasana Laguna yang damai seakan menghilangkan hiruk pikuknya kota Yogyakarta. Untuk sampai di Laguna yang terletak di Depok, Kretek, Bantul ini, pengunjung cukup menempuh perjalanan sekitar enam puluh menit dari Yogyakarta. “Pemandangannya bagus, mbak. Kalau tidak mendung, matahari terlihat terbenam di tengah lautan sana, kadang juga banyak burung yang terbang di sekitarnya,” ujar Padma Dyah selaku pengelola kuliner Pasar Laguna.

Padma bercerita bahwa kawasan yang dulunya bekas kebun buah naga ini kini dikelola oleh masyarakat setempat bersama Generasi Pesona Indonesia (GenPi) dan Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul. GenPi yang dikelola anak-anak muda melek teknologi mencoba mengemas pasar laguna menjadi objek wisata yang ciamik. “Konsep itu dikombinasikan dengan dengan prinsip ekoturisme dan zero straw untuk menjaga lingkungan”, tutur Galang Al Tumus salah satu anggota Genpi sekaligus lurah Pasar Laguna.

Berangkat dari ide Arya Nugrahadi dari Kementerian Pariwisata, Laguna menjadi salah satu dari seratus destinasi wisata digital yang sedang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata. Galang menjelaskan munculnya konsep wisata digital ini berkaitan erat dengan bergesernya tujuan wisata dari refreshing menjadi kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial dalam hal ini menawarkan berbagai spot foto yang instagramable. Selain itu, banyaknya pengguna media sosial memunculkan ide untuk memopulerkan destinasi wisata digital agar dapat lebih dikenal oleh masyarakat.

Suharyanto yang akrab dipanggil Yanto, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), menjelaskan bahwa Pasar Laguna sering digunakan untuk mengadakan acara gathering dan semacamnya oleh komunitas-komunitas lokal. Salah satunya adalah kegiatan senam massal pada 13 Oktober 2018 lalu. “Ada sekitar ribuan orang yang dateng ke acara senam itu” ujarnya.

©Istimewa

Meski sering diadakan acara komunitas, tetapi ada yang berbeda dari wajah Pasar Laguna sebagai destinasi wisata. Bagi pengunjung yang baru menginjakkan kaki di sana, mungkin tak menemukan di mana Pasar Laguna berada. Lahan parkir belum tahu ada di mana, tempat ibadah seadanya, kamar mandi pun seadanya, bahkan sulit membedakan pengunjung dan warga biasa. “Pemandangannya bagus banget, tapi untuk kamar mandi dan untuk tempat ibadahnya masih kurang dan perlu dibenahi,” saran Alhan Izzaturohman, salah satu pengunjung Pasar Laguna.

Akan tetapi, rasa kecewa terhadap fasilitas yang serba kekurangan berusaha dijawab oleh pihak Laguna dengan berbagai keindahan alam dan kuliner yang ditawarkan. Pengunjung yang datang akan disuguhkan makanan khas Pasar Laguna yaitu bubur cemplung. “Selain buburnya yang khas, ada juga nanti ingkung wiwit, pecel gendar, tahu guling, dan aneka olahan bebek,” tutur Muhammad Naufal Firdausyan, pengurus bagian administrasi dari GenPi.

Yanto menuturkan, proses pengembangan Pasar Laguna yang dimulai sejak bulan April tahun 2018 melibatkan beberapa pihak. Dalam hal pendanaan kegiatannya dikelola Kementerian Pariwisata, sedangkan dalam infrastruktur permanen dibantu Dinpar Bantul. Di sisi lain, GenPi berperan sebagai penghubung antara kementerian dengan warga. Sedangkan, dalam kelompok masyarakat terdapat komunitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan masyarakat sekitar yang sukarela membantu proses pengembangan Pasar Laguna.

Meski secara struktural Pasar Laguna dikelola banyak pihak, pada kenyataannya pengelolaan tidak berjalan lancar. Pasalnya, terdapat perbedaan pengelolaan antara bagian atas dan bagian bawah. Sementara ini, masyarakat hanya mengelola bagian bawah yaitu kuliner, perahu, dan semacamnya. Sedangkan, Dinpar sedang mengelola bagian atas dengan membangun infrastruktur pendukung seperti tempat parkir, mushola, toilet, dan bangunan permanen lainnya. “Setelah bagian atas rampung, barulah pengelola siap untuk mengenalkan Pasar Laguna ke khalayak umum,” tutur Yanto.

©Istimewa

Meskipun belum siap secara menyeluruh, masyarakat tetap ingin mempertahankan Pasar Laguna. Itu terbukti dari ungkapan Padma yang menceritakan kondisi Pasar Laguna beberapa tahun lalu. “Dulu ini (Pasar Laguna) cantik, amfiteaternya melingkar, di tengah ada sungai, dan tengah-tengahnya lagi ada panggung,” tutur Padma dengan raut wajah bangga.

Sembari mengingat sesuatu hal yang ingin dilupakan, Padma menceritakan peristiwa pada akhir tahun 2017 yaitu banjir cempaka. Banjir itu menenggelamkan semua yang ada, yaitu amfiteater dan gubuk di sekitar Laguna. Selain itu juga menyebabkan seisi gubuk tenggelam kecuali atapnya yang terlihat di permukaan air. Namun, seakan tak ingin kehilangan, warga sendirilah yang langsung membenahi kondisinya dengan bergotong royong.

Padma juga menjelaskan bahwa Pasar Laguna masih bergantung terhadap acara yang diselenggarakan. Terkadang, dengan modal jualan sekitar lima ratus ribu, dirinya bisa mendapat defisit hingga tiga ratus ribu. Bahkan, pulang dengan tangan hampa. “Kalau ada acara ya laris, tapi kalau tidak ada acara bisa rugi,” ungkapnya.

Saat matahari semakin bergeser, sembari tetap melayani pembeli, Padma melanjutkan cerita tentang Pasar Laguna. Meski jualannya tidak mendapat keuntungan yang jelas, dia tetap akan berjualan. Yang dia inginkan ialah pengunjung datang dan dapat menikmati kuliner sebagai ciri khas dari Pasar Laguna itu sendiri. “Lebih baik rugi daripada ada satu pengunjung yang kecewa dan memutuskan tidak pernah kembali,” ujarnya tanpa ragu meski harus rugi.

Padma menjelaskan bahwa alasan yang membuatnya bertahan selama ini adalah karena niat. Lalu juga karena cita-cita warga mengembangkan Pasar Laguna agar bisa membantu masyarakat sekitar, “Nantinya, jika Pasar Laguna maju kan bisa menghidupkan masyarakat sekitar Laguna,” tutup Padma sore itu.

Penulis: Anis Nurul, Muhammad Fakhri, Muhammad Rizqi Akbar (Magang)
Penyunting: Andara Rose 

Chelsea Pelengkap Liga Inggris

Artikel ini sudah terbit di Mojok.co

Manchester City harus mengalahkan Chelsea untuk kembali mengkudeta Liverpool di puncak Liga Inggris. Sementara itu, Chelsea sedang berjuang masuk 4 besar Liga Inggris.

Big match Liga Inggris Minggu (10/2) malam seharusnya berjalan sangat seru. Masing-masing tim, City dan Chelsea butuh 3 poin untuk kepentingan yang besar. City tak boleh kalah demi memepet Liverpool, sementara zona Liga Champions Chelsea sudah dikudeta Manchester United. Posisi The Blues juga terancam oleh Arsenal. Poin The Blues dan Arsenal sama-sama 50.


Rizqi Akbar: Chelsea itu cuma pelengkap di Liga Inggris. Klub kaya malu-maluin.

Pertandingan melawan Chelsea bakal jadi pemulus buat Manchester City. Setelah berjuang dengan sabar mengejar Liverpool, akhirnya jarak semakin dekat. Kini saatnya melawan The Blues. Tim yang juga kaya, tapi labil ini harus dibantai.

Tim labil ini sukanya beli pemain asal-asalan. Sudah dapat pemain bagus, eh tiba-tiba mainnya hancur nggak karuan. Sebut saja Fernando Torres. Mahal-mahal, eh langsung jadi linglung dan gagap main bola. Pas sudah dijual, perlahan-lahan sembuh lagi doi. Jadi jelas yang jelek bukan pemainnya. Yang bermasalah memang Chelsea-nya.

Bahkan pemain sekelas Mo Salah, Kevin De Bruyne, dan Romelu Lukaku juga pernah menjadi bagian dari tim labil dan bermasalah itu. Waktu di Chelsea, mereka semua bermain kurang memuaskan. Lalu dijual, eh Mo Salah makin bersinar, De Bruyne tambah ngeri mainnya, dan Lukaku kayaknya masih mengidap virusnya Chelsea.

Mereka harus sadar posisinya di Liga Inggris. Chelsea ini hanya menjadi jembatan penghubung posisi atas dengan posisi bawah. Gak lebih, tapi bisa kurang. Aneh juga untuk tim kaya yang belanja gila-gilaan di tiap musim, hanya mampu berada di tengah. Kalah sama Tottenham Hotspur. Sama Spurs yang belum tahu rasanya juara saja kalah. Pfftt…

Chelsea itu mirip dengan tetangganya, Arsenal. Tim yang katanya besar, tapi nyatanya hanya bisa sabar di Liga Inggris. Ini tim sepak bola atau siraman rohani. Sobar sabar terus.

Dalam daftar perebutan juara, kedua tim itu sudah harus dicoret sejak awal. Di Liga Inggris, mereka, khususnya Chelsea, itu hanya sebatas pelengkap. Mereka ada biar kelihatan ramai saja. Kalau pun nggak ada, masih ada banyak pilihan “hiasan” yang lain. Misalnya ya Wolves yang malah lebih bagus, atau Crystal Palace.

Nanti malam, sama seperti lawan Manchester City yang sudah-sudah, Chelsea pasti akan bermain nganyeli, Yaitu bermain bertahan sebertahan-bertahannya bucin yang sudah tahu kalau pacarnya itu toksik tapi dipertahankanDengan permainan seperti itu, City terpaksa harus jauh lebih agresif. Bakal terus-terusan mreteli pertahanan Chelsea seperti mas-mas yang kemarin mreteli motor pacarnya. Tanpa ampun!

Permainan atraktif City dipertemukan dengan permainan ngawur Chelsea. Tentu akan membuat Maurizio Sarri tidak tenang waktu sebats. Pak Sarri, kurang-kurangi ngerokoknya, lebih baik konsentrasi bikin taktik yang lebih bagus. Malu-maluin tim kaya aja, sih.

Dedi Irawan: Suporter City masih kalau berisik ketimbang suporter PS TIRA-Persikabo.

Ngeledekin Manchester Telur Asin sebenarnya malesin banget. Bukan apa-apa, bagi saya, jelas, klub yang agak mendingan di kota Manchester itu ya cuma Manchester United. Jadi, dengan terpaksa, kami mesti bertandang ke Emptyhad Stadium, stadion yang bahkan jumlah penontonnya masih kalah dari PS Tira-Persikabo.

Begini, kalau misalkan PS Tira-Persikabo ikut Liga Inggris dan mesti berlaga di Emptyhad Stadium, saya hakul yakin suara yel-yel bapak-bapak tentara yang ikut away days pasti lebih berisik dibanding Citizens.

Lebih-lebih di Indonesia. Suporter City itu, kayaknya sih, perpaduan dari 50% fans Pep Guardiola, 49% fans Aguero dan 1% yang ngaku-ngaku fans City dari hati. Ingat, cuma ngaku-ngaku. Andai Pep dan Aguero berdua pindah, kelar urusan, untung City banyak uang, bisa beli penonton bayaran.

Dengan uang, City bisa beli banyak pemain. Melihat kedalaman skuat, City jelas di atas kami. Uang berbicara banyak, tapi saya selalu berandai-andai bagaimana jadinya kalau Pep melatih tim sekelas Crotone atau SPAL. Kehebatan Pep saat ini, tentu saja, selain selalu melatih tim besar, juga selalu ditopang dana yang cukup buat bikin warga satu kecamatan di Jakarta mabuk es cendol.

Berbeda dengan Sarri, yang sebelum melatih Chelsea hanya menukangi tim-tim kecil, dan akhirnya berhasil bawa Napoli dengan skuat yang kalah jauh dengan yang dimiliki Pep, serta sokongan dana yang tidak seberapa, untuk minimal jadi tim yang menyusahkan Juventus.

Uang memang terbukti bisa membeli trofi, kamu pun mengakuinya, tapi tidak dengan loyalitas. Bisa dihitung dengan jari berapa banyak legenda yang dimiliki City. Itu pun nggak banyak yang tahu. Paling banter Shaun Wright-Phillips. Mentok dikit Richard Dunne, Sylvain Distin sama Stephen Ireland. Dari empat yang disebutin itu pun kayaknya nggak pada tahu semua deh.

Bisa dibandingkan dong dengan Chelsea yang punya John Terry, Frank Lampard, Didier Drogba, Gianfranco Zola, Claude Makelele, Eidur Gudjohnsen dan masih banyak lagi. Meskipun rekor Chelsea di Emptyhad Stadium jelek, tapi nggak menutup kemungkinan kami bisa menang. Kami percaya dengan kekuatan sarriball yang masyhur itu.

Kami percaya ada ikatan yang kuat antara Sarri dan Higuain sehingga bisa garang di kotak penalti lawan. Kami selalu percaya dengan Hazard yang siap sedia bermain on-fire dan bikin Ederson Moraes kelabakan.

Fans City jangan lupa mengantre dengan tertib. Mengantre untuk ambil jatah nasi kotak dan uang amplop. Mayan, nonton bola, dibayar lagi. Besok Senin pagi jangan lupa balik ke acara dahSyat, ya.

Manchester City vs Manchester United: Fans Manchester City Itu Kumpulan Bocah Labil

 Artikel ini telah terbit di Mojok.co

MOJOK.CO Salah satu derbi panas di Eropa, Derby Manchester antara Manchester City vs Manchester United akan sepak mula di hari Minggu. Siapa yang akan menang?

Rubrik Tekel kali ini mempertarungkan Rizqi Akbar vs Faizal Ardi. Sebagai fans City, Akbar ingin melihat sepak bola atraktif dan nikmat di mata, bukan sepak bola monoton yang bikin Lukaku jadi bek, sedangkan Fellaini jadi striker. Sementara itu, Faizal Ardi memandang fans City itu bocah labil. Keras, bung! Simak!



Rizqi Akbar: Kami tuh pingin nonton sepak bola atraktif, bukan kakek-kakek lagi markirin bus Manchester United.

Risih juga membaca twit admin Mojok yang menantang fans Manchester City untuk menghadapi derby Manchester dengan tulisan. Sedikit banget ya fans City yang kirim tulisan? (“Iya!” Jawab admin Mojok) Ya mau gimana lagi. Duel dengan tetangga sebelah itu gak terlalu menarikbuat kita-kita penikmat senja permainan atraktif. Kita nggak suka laga monoton yang nanti pasti ditampilkan anak-anak Manchester United. Boring, ah boring!

Sebetulnya kita lebih menantikan laga melawan Bournemouth pekan depannya. Lebih seru pasti. Buat besok mah, Pep Guardiola cuma ngelus gundulnya aja juga hasilnya tiga poin untuk City. Semua juga tahu, kan, Manchester United yang sekarang itu kayak gimana.

Kita bicara sekarang ya, bukan romantisme masa lalu yang selalu dibanggakan anak-anak sebelah itu. Huuuuuuu…Tiap kalah kok melipir sambil membanggakan prestasi kakek-kakeknya. Dasar wagu! Tonton tuh videonya Bang Balotelli. Salam 6-1!!!

Setan, Merah, sekarang mah udah nggak pantas membawa nama “United” lagi. Malu sama Bali dan Madura United. Mereka lebih oke.

Liat deh besok mereka bisa apa kalau main di Etihad Stadium. Mau ditonton seberapa banyak pun mainnya juga cuma gitu-gitu aja. Numpuk adek-adek di belakang sampai nutupin gawang David De Gea. Terus di depan ninggalin Alexis Sanchez yang saya yakini dia menyesal memilih Manchester yang ini bukan Manchester yang beneran. Di depan, Alexis bakal dibantu Fellaini, striker terbaik mereka saat ini, yang bisanya cuma nyikut sama nyundul umpan silang.

Tapi, siapa sih Alexis? Seberapa greget sih dia? Kita sudah tidak peduli. Bernardo Silva, Raheem Sterling, Leroy Sane, dan Riyad Mahrez terlalu uwuwu buat Liga Inggris. Oiya, di sebelah ada siapa lagi sih? Haa? Lukaku? Bek yang udah jarang ngegolin itu? Katanya klub penguasa Inggris, kok misquen talenta sih. Malu sama MLI, hihihi…

Satu-satunya pemain yang kita, fans City, segani ya cuma De Gea. Udah sih itu. Dia kiper hebat, respons oke, positioning oke, tapi salah pilih gawang untuk dijaga. Ngapain sih De, udah banyak juga yang jaga gawangnya, tuh kayak Lukaku, si bek mandul. Kamu mending cari klub lain yang tahu caranya “main sepak bola” deh. Atau main voli aja malah lebih berfaedah.

Meskipun Manchester United numpuk anak pramuka, eh pemain-pemainnya di lini pertahanan, mainin bek selevel Lukaku, itu bukan masalah buat City. Masak iya, Aguero dilawanin Chris Smalling atau siapa lah, terlalu mudah Lur. Pinjam Sergio Ramos dulu deh biar agak imbang mainnya.

Nah, sekarang ketimbang nebak siapa yang menang, karena udah pasti ketahuan siapa, mending kita nebak alasan apa lagi yang akan diucapkan fans mereka nanti ketika kalah. Protes model apa yang bakal dilontarkan Jose Mourinho.

Tebakan itu tidak perlu saya tulis. Karena pasti akan menghabiskan banyak waktu. Meskipun tidak sebanyak waktu yang dibutuhkan MU untuk menjadi juara lagi. Hehehe. MU mungkin akan juara beberapa tahun lagi. Tapi, juara di Divisi 2. Salam kekayaan!

Faizal Ardi: Manchester City itu klub narsis yang didukung bocah-bocah labil.

Well, di sini kita ngomongin dua klub satu kota yang nggak pernah akur. Sebenernya nggak ada yang bisa dibandingin dari kedua klub ini.Yang satu klub kaya akan prestasi, satu lagi kaya uang minyak.

Kalo diinget-inget, perolehan piala yang diraih antara kedua klub mending nggak usah dibandingin. Ibarat tuh yang satu klub tajir mentereng prestasi satu lagi klub kaum duafa pengemis dana buat ukir prestasi. Lo peres tuh dana minyak sampai ke Laut Banda pun nggak akan bisa nyamain prestasi yang Manchester United raih.

Jelas saja, yang satu klub tersukses era Liga Inggris, satu lagi klub yang bolak-balik degradasi. Gue inget banget waktu mereka kali pertama menangin Liga Inggris di era Premier League. Mereka bikin jersey setim yang tulisannya “Champions” pakai angka 12. Pertama gue husnuzan aja ngira mereka udah juara 12 kali di kehidupan sebelumnya. Eh ternyata, juara tahun 2012 bro! Angka 12 itu cuma buat NUNJUKIN TAHUN MENANG. Norak!

Ibarat nih, sikap lo kaya mental oknum orang tua yang baru tahu anaknya juara harapan satu, tapi bilang ke tetangga kalo dia juara umum. Karena aslinya mereka cuma menang tiga piala, sementara Manchester United udah 20 piala. Mungkin mereka malu nulis di jersey angka “3”. Ya gapapa, gue bisa ngerti, maklum. Kalau mereka nggak bisa juara tanpa “uang kaget”.

Manchester City ini juga terbilang narsis. Gue inget banget tahun 2018 ini pas April di mana mereka hampir mastiin juara di Derby Manchester. Saat itu, mereka sudah menyiapkan kaos “We did it on derby day”. Maksud mereka itu, mereka jago bisa mastiin juara di Derby Manchester.

Nyatanya? Hohoho kena comeback dari 2-0 jadi 2-3. Rasanya malu nggak sih lu. Ibarat tuh lu udah nyiapin gedung, udah sebar undangan, eh ternyata batal akad. Kalau boleh, gue pengen itu kaos buat ngelap komentar fans karbitan mereka yang suka sok-sokan ngejek Manchester United di sosmed.

Tapi…ups…gue lupa kalo mereka nggak punya fans. Fans mereka kumpulan bocah labil yang baru nyoba nonton Liga Inggris dan liat performa mereka bagus saja. Bisa dimaklumin buat yang fans klub ini, suatu saat nanti, nggak ngefans lagi karena nggak punya prestasi. Saat itu mereka akan nyadar sudah salah pilih.

Jangan dibandingin sama fans MU yang setia dari zaman onta sampe zaman Toyota, keukeuh dukung klub ini saat berprestasi maupun nggak. Because form is temporary, class is permanent. #GGMU

Catatan pertemuan kedua klub:

10 September 2016 | Manchester United vs Manchester City | 1-2 | Liga Inggris

26 Oktober 2016 | Manchester United vs Manchester City | 1-0 | Piala Liga

27 April 2017 | Manchester City vs Manchester United | 0-0 | Liga Inggris

10 Desember 2017 | Manchester United vs Manchester City | 1-2 | Liga Inggris

07 April 2018 | Manchester City vs Manchester United | 2-3 | Liga Inggris

Ruang Publik - Jürgen Habermas



Gagasan ruang publik sebenarnya buah pikiran yang telah lama diungkapkan Habermas di tahun 1962 dalam tulisannya berjudul “Strukturwandel der Offentlichkeit” yang baru diterjemahkan dalam bahasa Inggris di tahun 1989 dengan judul “The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society”.
Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai suatu wilayah kehidupan sosial, tempat opini publik terbentuk. Akses kepada ruang publik terbuka bagi semua warga negara. Ruang publik terbentuk dalam setiap perbincangan yang di dalamnya pribadi-pribadi berkumpul membentuk suatu ‘publik’. Bila publik menjadi besar maka komunikasi menuntut suatu sarana untuk diseminasi dan pengaruh (Habermas, 1991: 398).
Prinsip-prinsip ruang publik melibatkan suatu diskusi terbuka tentang semua isu yang menjadi keprihatinan umum. Ruang publik mengandaikan adanya kebebasan berbicara dan berkumpul, hak untuk berpartisipasi secara bebas dalam perdebatan politik dan pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan umum. Argumentasi-argumentasi yang dikembangkan bersifat diskursif, yakni bersifat informasi dan tidak ketat diarahkan pada topik tertentu.
Ruang publik dalam pengertian Habe0rmas, pada hakikatnya mengacu pada tempat (space) dalam suatu masyarakat yang diciptakan oleh para warganya untuk secara bersama mendiskusikan isu-isu dari kepentingan publik. Diskusi-diskusi ini pada gilirannya diterjemahkan sebagai tekanan-tekanan bagi perubahan politis. Ruang publik adalah ruang komunikasi yang terbentuk ketika dua orang atau lebih menjalankan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi ini yang terjadi adalah penyingkapan. Dengan demikian, tujuan ruang publik adalah ruang penyingkapan (Hardiman, 2009: 134).
Dengan demikian, ruang publik bukanlah merupakan ruang fisik. Ruang publik adalah suatu ruang sosial yang diproduksi oleh tindakan komunikatif. Ruang publik juga bukan suatu institusi atau organisasi politik. Ruang publik adalah suatu ruang tempat warga negara terlibat dalam deliberasi dialogal tentang isu publik. Ruang publik juga bukan institusi pengambilan keputusan, atau suatu pertemuan publik dengan agenda tertentu. Ruang publik adalah suatu arena tempat dilakukannya pembicaraan yang tak terikat secara institusional. Sastrapratedja (2010: 270) menyebut bahwa ruang publik dalam pemahaman Habermas adalah ruang yang mengaitkan “apa yang ada dalam diri” (idion) dengan “apa yang komunal” (koinon) melalui dialog. Melalui dialog dalam ruang publik, makna pengalaman personal dikaitkan dengan makna dunia politik. Perbincangan sehari-hari dalam ruang publik menjembatani ranah politik dengan ranah privat. Perbincangan politik sehari-hari mentranfsformasi ruang privat dengan ruang publik.
Ruang publik di sini harus eksis pada tempat yang langsung dapat diidentifikasi. Ruang publik juga dapat berupa suatu komunitas virtual atau imajiner. Ruang publik dalam bentuknya yang ideal, dibuat oleh warga secara bersama untuk menyuarakan dan mengetengahkan pada publik kebutuhan-kebutuhan masyarakat terhadap negara.
In its ideal form, the public sphere is “made up of private people gathered together as a public and articulating the needs of society with the state”. Through acts of assembly and dialogue, the public sphere generates opinions and attitudes which serve to affirm of challenge-therefore, to guide-the affairs of state. In ideal terms, the public sphere is the source of public opinion needed to “legitimate authority in any functioning democracy” (Rutherford, 2010: 18).
Habermas mengatakan bahwa apa saja bisa terjadi dalam ruang publik dan apa saja bisa dijadikan masalah dalam ruang publik. Meskipun ruang publik terkesan anarkis, namun menurut Habermas, tidak berarti bahwa ruang publik itu tidak ada aturan dan prinsip. Dia mengatakan bahwa ada prinsip yang terkait dengan rasio. Habermas percaya rasio mempunyai mekanisme seleksi apakah opini tersebut memiliki kualitas publik atau tidak. Ketika opini semakin rasional dan semakin menyangkut kepentingan umum, maka kualitas diskursifnya akan masuk diskursus moral. Opini yang terjadi di ruang publik itu akan masuk pada filter, yakni sistem hukum. Tampak dalam hal ini bahwa konsep ruang publik Habermas adalah konsep yang berasal dari modernitas. Modernitas menekankan penggunaan rasio diskursif, kebebasan, universalitas yang kesemuanya dianggap dapat tercapai melalui diskusi yang bermuara pada konsensus (Sastrapratedja, 2010: 277).


Contact Us

Link :

https://linktr.ee/rizqiakbar

Address :

Sleman, Yogyakarta,
Indonesia

Email :

kirimkeakbar@protonmail.com